Bisnis.com, SIDOARJO - PT Yanaprima Hastapersada Tbk. (YPAS), produsen karung/kantong beras dan semen akan mencoba bermain di pasar bebas maupun proyek pemerintah guna meningkatkan kinerja utilitas pabrik setidaknya bisa mencapai 75 persen.
Manager Marketing YPAS, Bernard mengatakan selama ini perseroan mengandalkan produk kantong/kemasan untuk semen dan beras atau tepung. Namun dengan semakin ketatnya persaingan, maka perseroan perlu memperluas segmentasi pasar.
"Jadi kita akan alihkan kapasitas produksi kantong semen ke produk karung industri dan pasar bebas yang masih berjalan dan potensi lebih luas," jelasnya dalam RUPS, Jumat (14/8/2020). Bisnis.com, SIDOARJO - PT Yanaprima Hastapersada Tbk. (YPAS), producers of rice and cement sacks / bags will try to play in the free market as well as government projects to increase the utility performance of factories by at least 75 percent.
YPAS Marketing Manager, Bernard said that the company has been relying on bag / packaging products for cement and rice or flour. However, with increasing competition, the company needs to expand its market segmentation.
"So we will shift the cement bag production capacity to industrial and free market sack products that are still running and have wider potential," he explained at the AGM, Friday (14/8/2020).
Dia menjelaskan pasar bebas yang dimaksud adalah memproduksi kantong/karung sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini misalnya seperti kemasan produk makanan dan minuman, beras, tepung dan lainnya.
"Untuk karung beras sampai pasarnya masih bagus, apalagi banyak kegiatan bansos dan beras subsidi. Makanya kami mau cari kesempatan membuat karung beras kemasan 5 kg dan 10 kg untuk Bulog, kita coba ikut tender," imbuhnya.
Direktur Utama YPAS, Irwan Susanto mengatakan kondisi pasar sejak tahun lalu sudah sangat sulit ditambah dengan adanya pandemi Covid-19 di awal tahun. Kondisi tersebut membuat banyak konsumen yang melakukan penundaan pengiriman terutama untuk pasar ekspor di Asean yang kontribusinya hanya 10 persen.
"Tentu pandemi ini adalah beban berat bagi global. Di semester I kita banyak pembatalan/penundaan kontrak pembelian dari luar negeri sehingga berakibat pada penurunan pendapatan," katanya.
Meskipun begitu, tambah Irwan, perseroan berharap dapat meraih pasar di semester II minimal pendapatan hingga akhir tahun bisa sama seperti tahun lalu.
Direktur Keuangan YPAS, Rinawati menjelaskan pada 2019, kinerja pendapatan perseroan tercapai Rp388 miliar atau turun 6 persen dibandingkan capaian 2018 yakni Rp412 miliar.
"Sedangkan kinerja pendapatan semester I/2020 tercapai Rp136 miliar atau turun 27 persen dibandingkan semester I/2019 yang mencapai Rp187,8 miliar. Kami berharap bisa mengejar pendapatan sampai akhir tahun minimal seperti 2019," katanya.
Menurut Rinawati, industri kantong/karung sejak tahun lalu menghadapi pasar yang lebih kompetitif, di samping ada biaya produksi tinggi salah satunya upah minimum pekerja yang sangat tinggi di Surabaya dan Sidoarjo.
"Persaingan harga juga menjadi lebih ketat karena over suplai di pasar, serta permintaan melemah akibat pandemi," imbuhnya.
Dia menambahkan kondisi harga bahan baku yang cenderung turun dan stabil yakni sekitar US$740 - US$1.070 per ton saat ini setidaknya bisa menjaga kondisi keuangan perseroan. Perseroan juga akan terus melakukan efisiensi agar kinerja laba bisa maksimal.
Adapun produk karung/kantong yang selama ini diproduksi YPAS yakni berupa woven, karung laminasi, kantong semen, dan block bottom. YPAS Finance Director, Rinawati explained that in 2019, the company's revenue performance was reached IDR 388 billion, down 6 percent compared to 2018's achievement of IDR 412 billion.
"Meanwhile, the revenue performance for the first semester of 2020 reached IDR136 billion or decreased by 27 percent compared to that in the first semester of 2019 which reached IDR187.8 billion. We hope to catch up with the income until the end of the year at least like 2019," he said.
According to Rinawati, since last year the bag / sack industry has faced a more competitive market, in addition to high production costs, one of which is the very high minimum wage for workers in Surabaya and Sidoarjo.
"Price competition has also become tighter due to over supply in the market and weak demand due to the pandemic," he added.
He added that the condition of raw material prices which tend to decline and are stable, which is around US $ 740 - US $ 1,070 per ton at this time, at least can maintain the company's financial condition. The company will also continue to make efficiency so that profit performance can be maximized.
The sack products that have been produced by YPAS are woven, laminated sacks, cement bags, and block bottoms.
Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun, PT. Yanaprima Hastapersada Tbk telah memperoleh basis pelanggan bisnis yang solid. Kami selalu melihat dampak pengemasan pada seluruh bisnis Anda. Tidak hanya tas yang kami lindungi dan simpan barang Anda, tetapi juga mencerminkan citra Perusahaan Anda dan tentu saja memengaruhi biaya Anda. Menggabungkan faktor-faktor tersebut dengan pengalaman panjang di lapangan.
Kami telah berkecimpung dalam industri pengemasan selama bertahun-tahun dan pengetahuan serta pengalaman selama bertahun-tahun telah membantu kami dalam merencanakan dan melaksanakan proyek pengemasan baru. Tim kami memiliki profesional ahli yang memiliki pengalaman bertahun-tahun di lapangan. Ini membantu kami memahami kebutuhan pelanggan dengan mudah sehingga kami dapat memberikan mereka kemasan yang sesuai untuk produk mereka.
Selama bertahun-tahun, kami telah berusaha keras untuk menjaga hubungan terbaik dengan pelanggan kami. Mereka sangat berharga bagi kami. Kami merasa bangga untuk mengatakan bahwa klien yang datang kepada kami pada awalnya masih bersama kami hingga hari ini. Kami merasa terhormat dan rendah hati serta berterima kasih kepada mereka masing-masing atas kepercayaan yang telah mereka berikan kepada kami. Kami ingin meyakinkan Anda tentang dukungan kami dalam pertumbuhan dan kesuksesan bisnis Anda.